Senin, 11 April 2011

Haruskah Do'a selalu sekarang terkabul ...?


Kadangkala manusia berdo'a, namun selesai berdo'a, do'anya tdk segera terjawab ...
Ditunggu, satu hari-dua hari, namun do'anya belum juga dikabulkan ...
Sehingga manusia tersebut berputus-asa dan menyangka kalau do'anya tidak akan terkabulkan ...

Jangan... janganlah demikian, karena sesungguhnya keputusasaan dan menghentikan do'a itu merugikan kita ...
Menghentikan do'a menyebabkan tidak terkabulnya do'a tersebut ...
Allah pasti mengabulkan do'a hamba2Nya yg berdo'a dan meminta kepadaNya dengan sungguh2 dan penuh harap ...
Karena itu janganlah menghentikan do'a dan janganlah berputus-asa dalam berdo'a ...
Terserah Allah, kapan Do'a itu dikabulkan, karena hanya Allah yg tahu, kapan (cepat atau tidaknya) dan bagaimana kebaikan terkabulnya do'a kita ...
Allah adalah Tuhan kita, sehingga janganlah sok "memaksa" Allah supaya disegerakan terkabulnya do'a kita ...
Kita hanyalah hambaNya, Allah Tuhan kita, dan penentu segala sesuatu hanyalah Allah, Allah yg Mahamemaksa, bukan kita ...
Kita hanya dapat berharap dengan sungguh2 dan dengan segala kerendahan hati, supaya Allah memperkenankan dan mengabulkan do'a kita ...



Hadits Tirmidzi 3309

حَدَّثَنَا الْأَنْصَارِيُّ حَدَّثَنَا مَعْنٌ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ مَوْلَى ابْنِ أَزْهَرَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَأَبُو عُبَيْدٍ اسْمُهُ سَعْدٌ وَهُوَ مَوْلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَزْهَرَ وَيُقَالُ مَوْلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَزْهَرَ هُوَ ابْنُ عَمِّ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ أَنَسٍ

[[[Telah menceritakan kepada kami [An Anshari] telah menceritakan kepada kami [Ma'n] telah menceritakan kepada kami [Malik] dari [Ibnu Syihab] dari [Abu 'Ubaid mantan budak Ibnu Azhar] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shalallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda:
"Akan dikabulkan doa salah seorang diantara kalian selama ia tidak terburu-buru, maksud terburu-buru, ia berkata; aku telah berdoa namun tidak dikabulkan doaku."

Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan shahih. sedangkan Abu 'Ubaid namanya adalah Sa'd ia adalah mantan budak Abdur Rahman bin Azhar, dan ada yang mengatakan; ia adalah mantan budak Abdur Rahman bin 'Auf. Sedangkan Abdur Rahman bin Azhar adalah anak paman Abdur Rahman bin 'Auf. Abu Isa berkata; dan di dalam bab ini ada yang diriwayatkan dari Anas.]]]
[HR. Tirmidzi No.3309].

Hadis Qudsi:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى

Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih)

---> Sesungguhnya Doa yang pasti terkabul itu merupakan jaminan dari Allah, tapi siapakah doa yang dijamin dikabulkan Allah?

Surat Al-Baqarah Ayat 186

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Surat Al-Mu’min Ayat 60

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".

Sesungguhnya dalam bahasa Arab dibedakan antara عِبَادِي dan عَابِدٌ , jika:
عِبَادِي memiliki makna, hamba yang tidak pernah menyekutukan Allah, yakni yang selalu mengEsakan Allah.
عَابِدٌ memiliki makna, hamba yang menyembah Allah, namun juga percaya dengan selain Allah. Tidak MengEsakan Allah, tauhidnya masih tercampur, belum murni hanya kepada Allah.

Sehingga yang sudah pasti dikabulkan doanya adalah yang عِبَادِي, yakni yang benar2 tidak pernah menyekutukan Allah, dan yang selalu mengEsakan Allah.

Sedangkan عَابِدٌ, contohnya terdapat pada surat Al-Kafirun Ayat 4 berikut ini:

Surat Al-Kafirun Ayat 4

وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ

Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah

--> Kisah Doa Nabi  Zakariya as.:
Sesungguhnya Nabi Zakariya as. berdo'a:"Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa."
Nabi Zakariya as. terus berdo'a dan berharap akan terkabulnya do'a tersebut, tanpa putus asa ...
Kemudian Allah mengabulkan Do'a Nabi Zakariya as. setelah Beliau berumur 90 tahun ...!!!
Dan isteri Nabi Zakaria a.s., yg bernama Hanna, adalah seorang istri yang mandul ...
Sesungguhnya Allah menggembirakan Nabi Zakaria a.s. dengan kelahiran seorang putera bernama Yahya, yang juga seorang Nabi ...

Padahal dengan umur yang sudah sangat tua (90 tahun) dan istri yang mandul, Nabi Zakaria a.s takjub dan heran, karena akan diberi seorang putra ...
"Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isteriku pun seorang yang mandul?."
Berfirman Allah: "Demikianlah, Allah berbuat apa-apa yang dikehendaki-Nya..."

QS 3.Ali 'Imran:38-40

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِى مِن لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ
فَنَادَتْهُ ٱلْمَلَـٰئِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّى فِى ٱلْمِحْرَابِ أَنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَـىٰ مُصَدِّقاً بِكَلِمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ
قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَـٰمٌ وَقَدْ بَلَغَنِي ٱلْكِبَرُ وَٱمْرَأَتِى عَاقِرٌ قَالَ كَذَٰلِكَ ٱللَّهُ يَفْعَلُ مَا يَشَآءُ

"Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.""

"Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat[membenarkan kedatangan seorang nabi yang diciptakan dengan kalimat kun (jadilah) tanpa bapak yaitu nabi Isa a.s] (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.""

"Zakariya berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isteriku pun seorang yang mandul?." Berfirman Allah: "Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.""


Sehingga kalau dijabarkan, ada empat macam Doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT:
1. Doa yang segera dikabulkan oleh Allah, seperti doa Nabi Isa as (baca kisahnya dibawah ini).
2. Doa yang agak lama dikabulkannya, hingga puluhan tahun baru dikabulkan, seperti doa Nabi Adam as dan Nabi Musa as. (baca kisahnya dibawah ini).
3. Doa yang lama dikabulkannya, hingga ribuan tahun baru dikabulkan, seperti doa Nabi Ibrahim as (baca kisahnya dibawah ini).
4. Doa yang tidak dikabulkan Allah didunia ini, namun dikabulkan setelah kita wafat. Seperti doa berikut ini (warna merah):

Surat Al-Baqarah Ayat 201

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka".


---> Beberapa kisah Doa yang dipanjatkan para Nabi:
Do'a Nabi Adam:
Ketika Nabi Adam dan istrinya Hawa diturunkan Allah ke bumi setelah melanggar larangan Allah memakan buah khuldi, mereka terpisah dengan jarak teramat jauh.
Selama 40 tahun, Nabi Adam dan Hawa di tempat terpisah itu dituntun Allah untuk memanjatkan taubat.

Doa Taubat mereka berdua:
Surat Al-A’raf Ayat 23

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.

Tanpa henti keduanya memanjatkan doa ini selama 40 tahun hingga akhirnya Allah mempertemukan keduanya di Jabal Rahmah, Kota Mekkah. Dilain kisah, doa Nabi Adam tersebut dikabulkan setelah beliau membaca sholawat kepada Nabi SAW, yang kala itu Nabi Muhammad SAW belum lahir (dari anak keturunan Nabi Adam juga), namun nama Beliau (SAW) telah dituliskan setelah nama Allah di 'Arsy, sehingga dapat dibaca oleh Nabi Adam as.

Doa Nabi Ibrahim as:
Suatu waktu Nabi Ibrahim mengajak Ismail untuk memperbaiki dan meninggikan dasar-dasar Baitullah (Ka’bah). Selesai merenovasi Ka’bah, Ibrahim berdoa:

Surat Al-Baqarah Ayat 129

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

Dengan penuh khusyu’, lama sekali doa itu dipanjatkan Ibrahim. Air matanya tumpah. Ia berharap dari anak keturunan Ismail kelak ada yang menjadi Nabi-Rasul Allah.
Nabi Ibrahim Alaihis Salam doanya baru dikabulkan Allah, setelah 3000 tahun kemudian. Dan Nabi Ibrahim pun tak menyaksikan wujud doanya itu.

Doa Nabi Musa AS:
Nabi Musa AS telah mengalami tantangan yang teramat besar dari Fir`aun dan kaumnya. Setiap kali ia memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah SWT, mereka mendustainya. Bahkan mereka bertambah congkak dan dengan ganas membuat kerusakan di muka bumi. Ketika itu tidak ada harapan dari keimanan mereka. Maka, Musa AS menghadapkan wajahnya ke langit seraya mengadukan pembangkangan Fir`aun dan kaumnya, sambil berdoa,

Surat Yunus Ayat 88

وَقَالَ مُوسَىٰ رَبَّنَا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَأَهُ زِينَةً وَأَمْوَالًا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِكَ ۖ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَىٰ أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوا حَتَّىٰ يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ

Musa berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan Kami -- akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih". 

Doa Nabi Musa AS itu pada dasarnya adalah sumpah kepada mereka yang kejam dan lalim di muka bumi. Yaitu mereka yang mempergunakan nikmat Allah SWT untuk memerangi agama-Nya dan menyebarkan kekufuran serta menobatkan dirinya sebagai Tuhan.

Jarak waktu antara permohonan doa tersebut dan pengabulannya berupa penenggelaman Fir`aun beserta para pengikutnya memakan waktu lebih dari 40 (empat puluh) tahun.

Doa Nabi Isa as:
Permintaan “besar” Hawariyyun bermula saat Allah memerintahkan hamba-Nya mengerjakan puasa selama 30 hari. Nabi Isa pun kemudian menyampaikan perintah Allah kepada para muridnya. Maka berpuasalah mereka selama sebulan atau 30 hari. Pada ujung bulan, setelah mengerjakan puasa, para pengikut Isa pun meminta “hadiah”.
Tak tanggung-tanggung, mereka meminta sesuatu yang sangat besar. Mereka menginginkan sebuah hidangan diturunkan dari langit untuk mereka berbuka puasa.

Surat Al-Ma'idah Ayat 114:

قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ ۖ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Isa putera Maryam berdoa: "Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama".

Allah pun segera mengabulkan doa utusan-Nya. Allah kemudian berfirman,

Surat Al-Ma'idah Ayat 115:

قَالَ اللَّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ ۖ فَمَنْ يَكْفُرْ بَعْدُ مِنْكُمْ فَإِنِّي أُعَذِّبُهُ عَذَابًا لَا أُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ

Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia".

Maka sebuah meja suci berisi banyak makanan, atau disebut dengan Al Maidah turun dari langit. Dua buah awan mengapitnya dan membawanya turun menuju Nabi Isa. Sementara, Al Hawariyun menyaksikan peristiwa menakjubkan tersebut. Nabi Isa terus berdoa agar hidangan tersebut menjadi rahmat dan  bukan azab. Saat menerimanya, Nabi Isa pun membuka kain penutup hidangan tersebut seraya berkata, “Dengan nama Allah sebaik-baik pemberi rezeki,” ujarnya.

Disini terdapat pelajaran yang cukup menarik. Yakni ancaman bagi hamba2Nya yang ingkar, setelah doa2nya dikabulkan dengan segera.

Surat Al-Ma'idah Ayat 115:
Allah berfirman: "... barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia".


Bab. Berdoa yang Sesuai dengan Kadarnya
Jangan berdoa yang aneh2, misalnya minta bisa pergi ke Matahari, namun berdoalah yang semestinya. Memang Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, namun ingatlah, kita tidak bisa mengatur Allah. Kehendak-Nya mutlak, tidak bisa manusia mengatur-Nya, atau manusia itu sendiri yang akan celaka.

Seperti dalam Doa Nabi Musa as, "Lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku". Nabi Musa tidak meminta untuk sembuh normal pada lidah beliau, yang telah kelu, karena lidahnya terbakar bara api yang ia masukkan ke dalam mulutnya sewaktu masih kecil. Namun beliau meminta, saudaranya Harun, yang lebih fasih lidahnya daripada Nabi Musa untuk menemaninya. Akhirnya Allah mengabulkannya. Dan itulah yang terbaik daripada lidah beliau disembuhkan oleh Allah.

Firman Allah Ta’ala,

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي  وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي  يَفْقَهُوا قَوْلِي

“Musa berkata, ‘Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii’ [Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thoha: 25-28)

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي  يَفْقَهُوا قَوْلِي

“dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku”

Dahulu Nabi Musa ‘alaihis salam memiliki kekurangan, yaitu rasa kaku dalam lisannya. Hal ini membuat orang lain sulit memahami yang beliau ucapkan, demikianlah dikatakan oleh para pakar tafsir.

Surat Al-Qasas Ayat 34

وَأَخِي هَارُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّي لِسَانًا فَأَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْءًا يُصَدِّقُنِي ۖ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُكَذِّبُونِ

34. Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku".

Oleh karena itu, Nabi Musa meminta pada Allah agar dilepaskan dari kekakuan lidahnya sehingga orang bisa memahami apa yang diucapkan oleh Musa. Akhirnya tercapailah maksud yang beliau minta, dengan cara yang lebih masuk akal.


Karena itu janganlah meminta yang aneh2 dalam berdoa dan jangan pula berdoa supaya segera dikabulkan doa2 kita, namun mintalah kebaikan dan keberkahan dari semua doa2 yang kita panjatkan ...


Baca juga: Adab Berdo'a


Tidak ada komentar:

Posting Komentar